Senin, 31 Desember 2012

Butuh Sesuatu (?)


Berikut adalah sebuah kisah seorang yang kaya raya memiliki rumah besar dan seorang yang miskin yang benar-benar tidak memiliki apa-apa kecuali apa yang melekat di tubuhnya.

Suatu sore, pengemis ini pergi keliling rumah ke rumah untuk mendapatkan sedekah dari orang – orang yang kasihan dengannya. Namun sore itu adzan ashar pun berkumandang pengemis ini terhenti di rumah yang besar dan kelihatannya pemilik rumah ini pasti kaya raya. Namun pengemis ini berkata,
“ehm aku sholat dulu deh baru ke rumah ini.”

Lalu pengemis ini berjalan menuju mesjid bersama kaum muslim yang lain. Shalat ashar pun selesai semua orang yang shalat tak akan pernah melewatkan kesempatan setelah shalat untuk berdo’a kepada Allah. Setelah pengemis ini selesai berdo’a dan hendak berdiri dan bergegas kerumah besar tadi. Pengemis ini melihat masjidnya telah kosong tetapi dia mendengar seseorang sedang merengek.

Lalu dia pun terduduk kembali dan memperhatikan siapa yang sedang merengek. Betapa terkejutnya ternyata yang sedang merengek itu adalah bapak pemilik rumah yang besar itu. Bukan kaget karena bertemu langsung dengan pemilik rumah besar itu tapi karena bapak itu merengek – rengek dan menangis.
“Ya Allah Engaku yang maha pengasih lagi maha penyayang, aku hanya meminta kepadamu ya Allah. Aku ingin ya Allah agar Engkau melimpahkan harta kepadaku yang halal yang baik dan melimpah kepada keluargaku ya Allah turunkanlah rezeki ku ya Allah.” Do’a sang bapak sambil menangis.

Belajar dari Anak Panah



Dalam hidup memang nggak pernah lepas dari masalah. Mau dari bayi sekalipun nyampe kita jadi aki-aki gak bakal lepas dari yang namanya masalah. Mungkin saat kita udah bisa nyelesain masalah yang kemarin jangan harap kita setelah itu bisa bebas. Kalo kita besoknya mati mungkin bisa terlepas dari masalah “dunia” namun apapun yang kita lakukan tetap dipertanggungjawabkan di akhirat dihadapan Allah yang maha mengadili.

Pasti kita pernah melihat anak panah. Yang bentuknya panjang dan ujungnya tajam. Kita sama 
seperti anak panah itu. Bisa menjadi apa saja berdasarkan kemampuan kita atau mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Namun saat panah itu ditarik kebelakang, semakin jauh dari keadaan normal. Ibarat kita sudah mempunyai kehidupan yang nyaman, prestasi yang gemilang, kerja ditempat yang kita inginkan, kekuatan saat sehat, dan kenikmatan yang lainnya namun kita mendapatkan kesengsaraan, dikeluarkan dari tempat kerja yang kita cintai, sakit yang terus menerus, jatuh dari prestasi yang biasa kita dapatkan, atau ditinggal oleh orang yang kita cinta. Pasti kita merasakan sakit dalam hati kita kenapa kita mendapatkan cobaan yang begitu berat. 

Namun selama panah itu masih di tarik kebelakang bukan berarti kita harus meratapi betapa jatuhnya kita. orang di luar sana sama dengan kita punya masalah. Namun setiap orang mempunyai masalah yang volumenya berbeda-beda. Mungkin ada yang volumenya kecil, sedang ataupun sangat berat. Dan volume masalah setiap orang selalu di atur oleh Allah s.w.t yang maha pemurah. Karena Allah mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, jadi Allah memberikan volume masalah sesuai kemampuan orang tersebut.

Namun selama panah itu masih tetap ditarik ke belakang apakah Allah tinggal diam. Tidak, Allah itu selalu mengawasi kita setiap saat. Mungkin kita akan berfikir kenapa kita bisa mendapatkan masalah, apakah Allah murka dengan kita?, apakah Allah sudah tidak sayang dengan kita?